PENGAWETAN HEWAN

 

“PENGAWETAN HEWAN”

 

( Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Teknologi Informasi )

Dosen Pembimbing  : Resyi Gani, S.Kom.

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Rahayu Mustika Sari ( 0361 11 082 )

Semester / Kelas : II / A

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PAKUAN

BOGOR

2012

 


DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. i

MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI. 1

A.         Media Pembelajaran. 1

B.         Jenis Media. 4

Media Non-elektronik dalam Pembelajaran Biologi 4

Media Elektronik dalam Pembelajaran Biologi 17

DAFTAR PUSTAKA.. 27

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI

 

A.           Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jaman dari medium (Sadiman, et. al., 1996), medius ( Azhar Arsyad, 1997), secara harfiah berarti  tengah, perantara  atau  pengantar.  Media  merupakan  perantara  untuk menyampaikan pesan. Berdasarkan Association of Education and Communication Technology (AECT) keduanya menyatakan bahwa media merupakan segala bentuk atau saluran orang yang digunakan untuk menyalurkan/ -menyampaikan pesan/informasi.

Satu hal yang  utama dan menantang  dalam memutuskan rancangan mengajar  adalah  menentukan  medium  atau  media  yang  dapat  digunakan untuk menyampaikan pengajaran (Dick & Carey, 1985). Penentuan media yang akan digunakan didasarkan pada apa yang akan diajarkan, bagaimana diajarkan dan bagaimana akan dievaluasi dan siapa yang menjadi siswa. Oleh karena  itu  maka  kemampuan  profesional  guru  harus  ditingkatkan,  karena pada gilirannya akan memberikan dampak positif pada peningkatan mutu proses dan hasil belajar (Satori, 1998).

Dengan adanya media pendidikan diharapkan bahwa penyajian materi belajar  lebih  jelas  tidak  bersifat  verbalistis.  Adanya  contoh-contoh  yang menarik berupa fakta, data, gambar, grafik, foto atau video dengan atau tanpa suara menjadikan kegiatan belajar menjadi lebih menarik. Bahan-bahan dapat disajikan dengan suatu rangkaian peristiwa yang disederhanakan atau diperkaya sehingga kegiatan belajar tidak merupakan uraian yang membosankan siswa.

Penggunaan media juga akan mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan kemampuan indera. Hal ini dimungkinkan karena objek yang terlalu besar dapat  lebih  dibuat  lebih  kecil  dalam  bentuk  foto,  gambar  atau  model. Sementara  untuk  objek  yang  terlalu  kecil  untuk  diamati  dapat  diperbesar dengan menggunakan alat bantu proyeksi. Demikian juga dengan gerak atau suatu proses yang terlelu cepat atau terlalu lambat dapat diatasi dengan mengatur kecepatan penampilannya di kelas. Berbagai kejadian masa lalu, peristiwa yang berbahaya atau peristiwa langka yang sudah terekam dalam suatu film dapat ditampilkan pada saat kapan saja.

Berdasarkan batasan dan karakteristik yang dimiliki, menurut  Azhar Arsyad (1997) media memiliki pengertian fisik (hardware), yaitu suatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera. Selain itu juga mengandung pengertian non-fisik (software), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada  siswa.  Sementara  itu    menurut  AECT  (1977)  dalam    Sadiman  et. al.(1996)  media  atau  bahan  adalah  perangkat  lunak  (software)  yang  berisi pesan  dan  informasi  pendidikan  yang  biasanya  disajikan  dengan menggunakan  peralatan.  Sedangkan  peralatan  atau  perangkat  keras (hardware) merupakan sarana untuk menampilkan pesan yang dikandung media tersebut.

Kegiatan belajar biologi merupakan suatu proses yang menuntut adanya aktivitas siswa, dengan demikian pengembangan media diarahkan pada kegiatan yang ditunjang oleh alat peraga praktek dan alat observasi. Dalam pengajaran biologi, ketika perangkat penunjang kegiatan tersedia masih mungkin terdapat sejumlah kendala sehingga proses pembelajaran tidak berjalan seperti yang  dilakukan oleh para ilmuwan, diantaranya:

  1. a.         Objek sebagai sumber fakta yang terbatas

Terjadi karena objek tidak ada, kemelimpahannya tidak tepat dengan waktu belajar (musim), sulit dijangkau karena jarak, posisi atau lokasi, terlalu kecil atau terlalu besar, berbahaya  bila  didekati  atau  dilindungi.  Perkembangan  fisik  kota sebagai salah satu cekaman antrapogenik pada tingkat komunitas mengakibatkan terjadinya pergeseran bahkan penghilangan habitat organisme, akibatnya pada daerah perkotaan objek biologi menjadi jauh dari jangkauan.

 

  1. b.        Proses  sulit diamati

Terjadi  karena  terlalu  cepat  (reaksi  metabolisme), terlalu lambat (adaptasi dan pertumbuhan), atau berada dalam sistem yang sangat kecil (sel/organel), terjadi dalam sistem mahluk hidup dan tidak konstan (mudah dipengaruhi faktor lingkungan).

 

  1. c.         Terbatasnya sarana laboratorium

Keterbatasan sarana laboratorium ini merupakan suatu yang umum terjadi. Keterbatasan ini bisa disebabkan karena alatnya yang tidak ada atau rusak. Umumnya sekolah jarang menganggarkan dana untuk pemeliharaan perangkat laboratorium, akibatnya banyak alat-alat yang rusak karena tidak terpelihara. Disisi lain kebutuhan bahan-bahan lab sering tidak terpenuhi karena terbatasnya dana yang ada. Sampai saat ini dunia pendidikan selalu dihadapkan dengan proporsi alat yang tidak seimbang,  dan di sekolah tertentu bahkan tidak pernah mencapai keadaan minimum.

 

  1. d.        Siswa terlalu banyak, proporsi siswa guru tidak seimbang

Keadaan ini mengakibatkan siswa tidak belajar secara optimal. Jumlah kelas yang terlalu banyak menyulitkan guru untuk membagi perhatian kepada seluruh siswa secara merata.  Sementara itu untuk kegiatan praktikum dalam laboratorium yang semestinya perbandingan guru dan siswa menjadi lebih kecil tidak terjadi. Bahkan karena banyaknya murid di sekolah mengakibatkan terjadi perubahan peruntukan laboratorium menjadi kelas. Akibatnya terjadi kesulitan dalam mengembangkan tuntutan kurikulum.

Pengembangan media pembelajaran biologi bertujuan untuk meningkatkan  kualitas  pembelajaran.  Sejalan  dengan  jiwa  otonomi  daerah yang  asumsi  dasarnya  adalah  keragaman,  dalam  segi  kemampuan  atau muatan lokal sangat mungkin dan luas untuk mengembangkan berbagai media pembelajaran,  selaras  dengan  kurikulum  yang  berlaku. Prosedur  untukmengembangkan media didasarkan pada langkah berikut:

  1. menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa
  2. merumuskan tujuan instruksional
  3. merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tecapainya tujuan
  4. mengembangkan alat ukur keberhasilan
  5. mengadakan tes dan revisi.

Selanjutnya dalam pengembangan alat sederhana sebagai bagian dari media pembelajaran hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Mampu menyederhanakan proses
  2. Mampu   untuk   memvisualkan   atau   mengkonkritkan   hal-hal   yang abstrak
  3. Biaya murah dengan bahan yang berada dari lingkungan sekitar kita (azas manfaat, bagi siswa memberi contoh untuk memanfaatkan barang bakas atau berfikir kreatif)
  4. Mudah dirakit dan digunakan oleh siswa secara individual atau kelompok
  5. Penggunaan material dengan biaya yang rendah

 

 

B.            Jenis Media

Media Non-elektronik dalam Pembelajaran Biologi

 

  1. 1.         Pengertian Media Non-Elektronik

          Kelompok kategori media non elektronik didasarkan kepada cara pengelompokkan atau klasifikasi media berdasarkan diperlukan tidaknya perangkat   elektronik   untuk   menjalankan   media   tersebut.   Menurut Abdulhak & Sanjaya (1995), media non elektronik adalah media yang dapat digunakan tanpa bantuan alat-alat elektronik seperti media grafis, model, chart, mock-up, specimen dan sebagainya. Karena tidak adanya tuntutan perangkat elektronik yang pada umumnya memerlukan energi listrik, memungkinkan kelompok media ini dapat digunakan di berbagai daerah yang belum memiliki sumber energi listrik.

          Media grafis dan chart tentunya bukan hal yang asing bagi Anda. Ketika Anda memperhatikan presentasi dari seseorang, seringkali presenter menunjukkan  grafis,  gambar  atau  chart  untuk  memperjelas  pesan  yang ingin  disampaikannya  kepada  yang  hadir.    Namun  demikian  peranan media  ini  dalam  menyampaikan  pesan  terbatas  hanya  dapat  dicerna melalui penginderaan mata. Sehingga dalam konteks belajar mengajar tidak banyak menuntut siswa untuk menggunakan alat indera lainnya.

          Berbeda dengan media grafis dan chart, specimen (kita kenal dengan istilah media asli) dan model dapat memberi kesan lebih terhadap siswa. Kedua kelompok media tersebut bersifat tiga dimensi sehingga dalam perannya sebagai penyampai pesan akan lebih akurat.

          Selanjutnya  marilah  kita  bahas  kedua  kelompok  model  tersebut, mengenai karakteristik, manfaat serta teknik menggunakannya.

 

  1. 2.         Media Asli

          Media asli atau specimen merupakan obyek sebenarnya yang digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Cakupan media asli dalam pembelajaran biologi sangat luas, mulai dari bagian kecil dari suatu obyek sampai ke obyek utuh lengkap dengan habitatnya. Berdasarkan ukurannya mulai dari obyek yang besar sampai dengan obyek mikroskopis yang hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Media asli sering juga disebut sebagai realia karena media tersebut adalah obyek nyata (real), dalam kaitan materi biologi adalah makhluk hidup utuh atau bagian-bagiannya.

          Menampilkan obyek nyata di dalam kelas, dapat memberikan pengalaman langsung kepada para siswa saat pembelajaran. Apabila memungkinkan para siswa dapat menyentuh, membaui, memegang atau memanipulasi obyek tersebut. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan media asli antara lain tingkatan pengalaman siswa yang belajar dan ketersediaan obyek sebagai media. Beberapa obyek mungkin terlalu  besar  atau  terlalu  kecil  untuk  disajikan  pada  tingkatan  sekolah tertentu atau mungkin juga obyeknya membahayakan siswa, misalnya ular berbisa, binatang buas, tumbuhan beracun dan lain sebagainya. Hal lainnya adalah kemudahan mengoleksi serta harga suatu obyek yang mungkin sangat  mahal.  Namun  demikian  penggunaan  media  asli  dapat menjembatani perbedaan situasi pembelajaran di kelas dengan situasi kehidupan nyata (Gillespie & Spirt, 1973).

          Berkaitan  dengan  media  pengajaran  biologi,  sebenarnya  tidaklah sukar untuk mendapatkan media asli. Di sekitar sekolah atau lingkungan tempat tinggal siswa banyak sekali objek yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran biologi. Kita jangan lupa bahwa biologi itu suatu ilmu tentang alam kehidupan nyata, yang tentunya objek kajiannya adalah hal- hal yang nyata pula. Bertitik tolak dari kenyataan ini, tentulah media pengajaran yang paling cocok, mudah dan murah adalah objek nyata pula. Kapankah kita memerlukan media berupa gambar, foto, model, video atau animasi?  Jawabannya  tergantung  kepada  apa  yang  akan  kita  ajarkan kepada para siswa, apakah tentang struktur atau proses. Kalau tentang struktur akan lebih baik menggunakan objek asli, kecuali untuk struktur yang berupa molekuler seperti membran sel misalnya, tetapi kalau tentang suatu proses mungkin media video atau animasi akan lebih baik digunakan sebagai medianya.

          Ketika sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar biologi, guru dapat menggunakan peserta didik sebagai media atau bahkan kelas yang digunakannya juga dapat berperan sebagai media. Demikian juga untuk di luar  kelas,  halaman  sekolah,  kebun  sekolah,  kolam  dan  taman  sekolah dapat  digunakan  sebagai  media  apabila  diperlukan.  Melalui  media  asli, anak didik melihat langsung peristiwa yang nyata, yang jauh lebih baik ketimbang   sekedar   membaca   uraian   atau   deskripsi   mengenai   obyek tersebut. Contoh ketika kita akan memperkenalkan salah satu hewan invertebrata yaitu Bintang laut, siswa secara langsung dapat menggunakan semua panca indranya. Siswa dapat menginderai bentuk, warna, ukuran dan  dapat  pula  merabanya  apakah  halus  atau  kasar.  Selain  itu  apabila obyeknya   masih   hidup   para   siswa   dapat   melihat   secara   langsung bagaimana  gerakan  hewan  tersebut.

Gambar  11.2  (a)  memperlihatkan contoh  media  asli  yang  dapat  disajikan  di  kelas,  serta  media  asli  yang berada di luar kelas (b).

 

 

(a)                                                  (b)

 

Gambar .2  :(a) Media asli berupa awetan bintang laut; (b) Siswa sedang mengamati perilaku kera di Kebun Binatang

 

          Contoh lainnya pada saat pembelajaran tentang proses metamorfosis jangkrik,  selain  ukuran,  bentuk,  warna,  anak  juga  mendengar  bunyi yang dikeluarkan oleh jangkrik jantan atau betina. Maka jangkrik merupakan alat yang paling baik, karena pengalaman yang diperoleh siswa ketika mengamati jangkrik merupakan pengalaman nyata yang tidak  mudah terlupakan serta  memberi  rangsangan  pada anak  didik untuk lebih jauh lagi menggali keingintahuannya.

          Contoh lain lagi dalam pembelajaran konsep keanekaragaman, melalui sajian berbagai macam bentuk daun yang diperoleh dari lingkungan sekitar, para siswa dalam suasana senang dapat membandingkan, mengelompokkan daun-daun tersebut berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya masing-masing. Perhatikan gambar 11.3 sebagai contoh media tersebut.

 

 

Gambar .3. Macam-macam daun sebagai media pembelajaran konsep Keanekaragaman Hayati

 

 

Macam-macam Media Asli

 

          Berdasarkan uraian di atas, media asli dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa cara, misalnya dari ukurannya, keutuhannya, kondisinya dan sebagainya. Berdasarkan ukurannya, media asli dapat dikelompokkan menjadi media makroskopis dan mikroskopis. Apabila pengelompokkan tersebut didasarkan pada keutuhannya, media asli dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu media dengan menampilakan satu atau sekelompok individu utuh dan media dengan hanya menampilkan bagian dari tubuh individu tersebut. Sedangkan apabila didasarkan pada kondisinya, media asli dapat dikelopokkan menjadi media segar dan media awetan.

  1. a.         Media segar

         Media segar atau seringkali disebut sebagai preparat segar dapat diartikan  sebagai  media  yang  langsung  disiapkan  dan  dipakai  saat media tersebut masih benar-benar alami. Keuntungan media atau bahan segar tersebut antara lain kondisi media yang sama persis dengan keadaan alaminya, seperti ukuran, warna serta perilakunya (apabila media tersebut  berupa hewan). Para siswa  akan sangat diuntungkan dengan  penggunaan  media  segar  tersebut,  karena  apa  yang  mereka pelajari sangat menunjukkan kedekatannya dengan kehidupan sehari- hari. Contoh media segar yang umum digunakan dalam kegiatan pembelajaran biologi adalah:

  • Tumbuhan dan bagian-bagiannya; akar, batang, daun, bunga, buah, biji, sporangium dan sebagainya
  • Binatang; mencit, burung merpati, katak hijau, ikan, udang, belalang, jangkrik, cacing tanah, Planaria dan sebagainya.

 

  1. b.        Media Awetan

         Media awetan terdiri dari awetan basah dan awetan kering. Awetan basah dibuat dengan cara merendam tumbuhan dan atau binatang baik dalam bentuk utuh atau pun bagian-bagiannya dalam larutan pengawet. Larutan  pengawet  tersebut  umumnya  berupa  alcohol  dengan konsentrasi  50%  – 70%,  campuran  formalin,  asam  asetat  dan  alcohol (larutan FAA) atau larutan formalin 4%. Larutan alcohol biasanya digunakan untuk mengawetkan binatang rendah dari Phylum Arthropoda. Pengawet FAA banyak digunakan untuk mengawetkan specimen tumbuh-tumbuhan. Untuk tumbuhan tingkat rendah seperti lumut biasanya digunakan FAA konsentrasi rendah, sedangkan untuk tumbuhan berkayu menggunakan FAA dengan konsentrasi tinggi. Larutan formalin 4% digunakan untuk mengawetkan binatang atau bagian tubuh binatang dengan cara merendamkannya. Hal yang perlu diperhatikan pada media awetan basah adalah tempat yang digunakan untuk menyimpan awetan basah tersebut harus tertutup rapat dan specimen  yang  ada  di  dalamnya  harus  terendam,  oleh  karena  itu volume larutan pengawetnya harus dijaga. Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah ketika digunakan, larutan pengawet jangan sampai tertelan karena bersifat racun.

         Awetan   kering   dibuat   dengan   cara   mengeringkan  tumbuh tumbuhan, binatang atau bagian-bagiannya baik dengan atau tanpa bahan pengawet. Contoh yang paling populer adalah herbarium yang diawetkan dengan sublimat. Serangga tertentu dapat diawetkan dengan cara menaruh kapur barus di tempat penyimpanannya. Contoh media awetan kering lainnya adalah rangka hewan yang dipasang sesuai dengan struktur aslinya   dan taksidermi. Sebagai ilustrasi perhatikan gambar  11. 4,  bagaimana  media  asli  dalam  bentuk  awetan  tersebut ditata untuk digunakan sebagai media ketika KBM berlangsung.

 

a)       

b)       

c)       

d)      

e)       

f)        

 

Gambar  4. Contoh macam-macam media asli awetan ; (a) awetan basah Ganggang dan lumut, (b) awetan basah binatang, (c) herbarium,  (d)  rangka  ikan, (e)   dan   (f) taksidermi

 

          Setelah Anda mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis media asli, kini saatnya Anda memutuskan untuk memilih media yang cocok untuk pembelajaran konsep yang akan dilakukan. Bagaimanakah criteria untuk memilih media asli yang cocok untuk pembelajaran? Sebelum kita menyiapkan media asli, terlebih dahulu kita harus mengidentifikasi karakteristik konsep   yang   akan   dipelajari   siswa.   Konsep-konsep   atau   topik pengajaran yang berupa proses atau molekul, umumnya sulit disiapkan media  aslinya.  Konsep-konsep  biologi  yang  berupa  struktur  lebih mudah penyediaan media aslinya.

 

  1. 3.             Model

          Model merupakan media tiga dimensi yang dapat dilihat, diraba dan mungkin dimanipulasi. Media model dibuat dalam usaha membantu mewujudkan realitas. Hal ini dimaksudkan untuk mensiasati kelemahan dari media asli yang tidak mungkin dijadikan alat pembelajaran di kelas yang disebabakan oleh berbagai alasan.  Alasan tersebut antara lain ukuran yang ekstrim besar atau ekstrim kecil, bagian dalam media asli yang tidak tampak dari luar dan sebagainya. Dalam beberapa kasus, media model sengaja dibuat dengan menghilangkan bagian-bagian tertentu agar bagian-bagian lainya lebih jelas. Melalui penggunaan model sebagai media, suatu obyek dapat dibawa ke dalam kelas dalam bentuk replikanya (Gillespie & Spirt, 1973). Berikut ini akan disajikan contoh-contoh model yang dikembangkan berdasarkan alasan-alasan tersebut.

 

  1. a.             Model dibuat karena alasan ukuran obyek sebenarnya

Beberapa obyek biologi kadang kala ukurannya sangat besar, misalnya kerangka Dinosaurus atau struktur tubuh Gajah. Media pembelajaran untuk obyek  tersebut  dapat  dikembangkan  dengan  cara  membuat  model  yang meniru obyek aslinya dengan ukuran yang memungkinkan untuk dibawa ke kelas. Sebaliknya adakalanya suatu obyek biologi sangat kecil ukurannya, misalnya sel dan jaringan. Hal tersebut dapat diatasi dengan cara membuat model jaringan atau model  sel dengan meniru objek asli hasil pengamatan melalui mikroskop. Melalui model sel dan jaringan tersebut para siswa dapat dengan mudah mempelajari struktur sel. Contoh model sel dan jaringan dapat dilihat pada gambar 11.5.

(a)           

(b)         

Gambar .5. (a) Model jaringan tumbuhan dan (b) Model sel

 

  1. b.             Model dibuat untuk menunjukkan bagian dalam suatu obyek biologi

         Adakalanya bagian penting suatu obyek biologi untuk dipelajari tidak mudah  dilihat  dari  permukaannya  dan  diperlukan  teknik  dan  alat  khusus untuk membedahnya. Untuk mengatasi kasus ini dapat dibuat suatu model utuh  obyek  dan  pada  pada  bagian  lain  sengaja  dibuat  bagian  dalamnya (cutaway models). Sebagai contoh model struktur otak dengan posisi di dalam tengkorak, atau model ginjal dengan struktur medulla di bagian dalamnya.

 

Gambar .6  Model Struktur otak di dalam tengkorak (cut away model)

 

  1. c.              Model dibuat dengan menghilangkan bagian tertentu dari obyek aslinya

Teknik penyiapan model seperti ini dimaksudkan untuk menunjukkan bagian-bagian  tertentu  saja  dari  suatu  obyek  biologi.  Bagian  yang  tidak dibuang adalah bagian yang ditonjolkan supaya mendapat perhatian lebih dari siswa. Contoh model seperti ini antara lain model system peredaran darah yang hanya menunjukkan pembuluh darah, jantung dan paru-paru.

 

Gambar  .7  Model  peredaran  darah  dibuat  dengan  menghilangkan  bagian tertentu dari obyek aslinya

 

  1. d.             Model disiapkan untuk dibongkar pasang

         Sejumlah  model  obyek  biologi  sengaja  dibuat  dengan  bagain-bagian yang dapat dibongkar dan dipasangkan kembali. Contoh untuk ini adalah model tubuh manusia yang dirancang lengkap bagian struktur luar dan organ- organ dalam tubuh. Ketika model tersebut akan digunakan guru membantu siswa memahami struktur alat-alat pencernaan, dengan mudah guru dan siswa dapat   membuka   bagian   luar   tubuh   serta   menguraikan   bagian   alat-alat pencernaannya.

 

Gambar .8 Model disiapkan untuk dibongkar pasang

 

Media Elektronik dalam Pembelajaran Biologi

Pengertian media elektronik

          Penamaan media elektronik didasarkan pada kebutuhan perangkat elektronik ketika akan menggunakannya dalam pembelajaran. Disamping kebutuhan perangkat elektronik, dalam penggunaan media kelompok ini diperlukan juga sumber listrik untuk menjalankan perangkat tersebut. Agar penggunaan media kelompok ini tidak terkesan memboroskan biaya, maka media yang disiapkan harus dirancang sedemikian rupa sehingga memiliki kelebihan dengan macam media lainnya yang dari segi pembiayaan lebih murah. Di dalam pembelajaran biologi terdapat sejumlah konsep yang sulit divisualisasikan, misalnya Metabolisme, Materi genetika, Reproduksi sel dan lain-lain. Melalui media elektronik konsep-konsep tersebut diharapkan dapat dengan mudah dikuasai siswa.

          Berdasarkan jenisnya media elektronik dapat dikelompokkan menjadi media audio, media visual dan media audio visual. Belakangan dengan munculnya computer yang secara luas dapat diaplikasikan ke dalam berbagai bidang termasuk bidang pendidikan dan atau pembelajaran, munculah kelompok media pembelajaran interaktif. Pada media interaktif tersebut selain menampilkan audio visual, juga media dapat diprogram untuk dapat “merespon” si pengguna (interaktif).

          Beberapa contoh media elektronik adalah overhead projector (OHP), slide projector, radio, televisi, computer dan sebagainya. Pada uraian berikut ini Anda akan mencoba mempelajari teknik pemanfaatan OHP, slide projector dan komputer dalam pembelajaran Biologi.

 

  1. 1.             Overhead Projector (OHP)

          OHP  merupakan  jenis  media  proyeksi  yang  mengandalkan  kemampuan visual peserta didik dalam merespon pesan.

          Bila dilihat dari bagian  OHP terdapat 2 bagian yaitu ada yang disebut dengan:

  1. perangkat lunak (softwear), berisi pesan- pesan yang akan disajikan atau diinformasikan. Pesan-pesan tersebut disajikan dalam lembar transparansi.  Lembaran tersebut  terbuat  dari  bahan plastic  transparan yang biasa dipakai untuk taplak meja atau plastic untuk jilid atau film asetat dengan ukuran umumnya 8X11inci atau 21cm X  27cm (Abdul hak & Sanjaya, 1995). Bias berupa lembaran-lembaran terpisah atau berupa rol yang panjang.
  2. Perangkan  keras  (Hardwear)  adalah  alat  atau  peralatan  yang dipersiapkan untuk menyajikan perangkat lunak yang dikenal dengan Over Head Projektor (OHP).

Isi pesan yang disajikan dalam media transparansis dapat berupa:\

  1. Narasi
  2. Gambar
  3. Tabel
  4. Grafik
  5. Lambang

 

 

 

              Media OHP merupakan salah satu media pembelajaran yang mudah dibuat, lagipula biayanya sangat murah bila dibandingkan dengan media lainnya.   Salah   satu   keuntungan   penggunaan   OHP   tidak   memerlukan ruangan gelap secara khusus. Bisa digunakan   oleh seorang guru untuk menyampaikan bahan ajar yang sudah dirumuskan.

          Menurut Ishak dan Sanjaya (1995) beberapa keuntungan menggunakan media transparan dalam kegiatan belajar mengajar:

 

  1. Dapat digunakan untuk kelompok siswa yang cukup besar
  2. Tidak memerlukan ruangan khusus, artinya OHP dapat digunakan pada ruangan yang terang berbeda dengan media proyeksi lainnya yang memerlukan ruangan yang gelap.
  3. Dengan OHP komunikasi dengan siswa tidak akan terputus. Guru akan dapat mengontrol respons siswa selama presentasi berlangsung.
  4. Media transpansi mudah dibuat dan dapat dipakai berulang-ulang.
  5. Informasi  atau  pesan  yang  disampaikan  pada  transparansi  mudah direvisi manakala diperlukan, bahkan pada saat presentasi berlangsung.
  6. Mudah mengoperasikannya.

 

          Disamping sejumlah keuntungan-keuntungannya, penggunaan OHP memiliki kelemahan antara lain (Sulaeman,1981; Abdulhak & Sanjaya, 1995):

 

  1. harus tersedia hardwear dan softwear
  2.  penyimpanan
  3. penataan tata letak dan tata ruang yang sering menimbulkan persoalan
  4. urutan penyajian yang mudah kacau karena berupa lembaran- lembaran yang terpisah. Namun hal ini juga tergantung pada penyaji atau guru itu sendiri apakah sudah memiliki trik- trik tertentu misalnya:
  • cara penyajian
  • teknik penyajian
  1. penggunaan media ini memerlukan fasilitas khusus, terutama listrik
  2. pembuatan media transparansi memerlukan ketrerampilan khusus

 

 

gambar  9 salah satu model OHP (Over Head Projector)

 

          Agar  OHP  dapat  digunakan  dalam  pembelajaran,  guru  perlu  membuat media transparansi. Secara umum dikenal ada 4 macam transparansis yaitu:

 

  1. Transparansi  yang  ditulis  tangan,  yaitu  apabila  gambar  atau  tulisan dibuat  sendiri  oleh  guru  dengan  menggunakan  spidol  khusus transparansi yang disebut marking pen (transparansis marking pen) yang tersedia dengan berbagai warna yaitu merah, hitam, biru, ungu, coklat dan hijau dengan berbagai ukuran antara lain yaitu 0,6 mm, 0,8 mm dan 1,0 mm.
  2. Transparansi tahan panas, yaitu transparansi yang bisa dibuat melalui proses pencetakan.
  3. Transparansi  fotokopian,  yaitu  transparansi  yang  dihasilkan  dengan menggunakan mesin foto kopi.
  4. Transparansi  yang  di  buat  secara  komputasi,  yaitu  transparansi  yang dibuat dengan menggunakan program komputer dan didesain untuk printer injet.

 

Penggunaan OHP

 

          Pembelajaran dengan menggunakan OHP adalah materi-materi yang menuntut penjelasan lebih lanjut, seperti bila kita akan membahas tentang struktur dan fungsi organel sel. Kita bisa menampilkan gambar sel dengan organel-organel didalamnya kemudian sambil kita menampilkan gambar tersebut  di  depan  kelas  maka  sambil  menunjuk  organelnya  kita  dapat menjelaskan struktur dan fungsinya sekaligus. Seperti contoh di bawah ini :

 

 

Tempat terjadinya transportasi zat baik dari luar maupun dari dalam sel

 

gambar  11 contoh penggunaan OHP di kelas

 

 

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

 

  1. Sambungkan OHP dengan arus listrik pada tempat yang aman, apabila posisi terminal listrik terlalu jauh dengan OHP gunakanlah kabel penyambung yang panjangnya sesuai dengan kebutuhan.
  2. Hidupkan saklar utama
  3. Posisikan  letak  OHP sehingga  ukuran bayangan  benda  dapat  dilihat oleh siswa yang duduk paling belakang.
  4. Aturlah focus dengan cara menaruh obyek (pensil atau yang lainnya) sampai bayangan obyek kelihatan jelas (tajam).
  5. Bila sudah kelihatan fokus, maka OHP siap untuk digunakan.
  6. Posisi guru di depan jangan sampai menghalangi para siswa .  Anda dapat langsung menulis pada transparansi kosong saat Anda menjelaskan, langsung menampilkan transparansi yang sudah Anda persiapkan sebelumnya, atau Anda dapat memakainya sekaligus yaitu transparansi yang masih kosong dengan transparansi yang sudah Anda siapkan hal ini untuk menambahkan atau tanda-tanda tambahan pada transparansi yang sudah dibuat sebelumnya. Keuntungannya adalah transparansi yang sudah Anda siapkan sebelumnya tidak menjadi kotor oleh tulisan-tulisan atau tambahan-tambahan yang Anda tulis pada saat tampil di depan kelas tersebut.
  7. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan OHP, gunakan layer atau dinding yang berwarna terang tetapi tidak mengkilap. Jangan menggunakan papan tulis putih (white board) karena cahaya akan memantul sehingga siswa merasa terganggu penglihatannya (silau).
  8. Gunakan  alat  penunjuk  pada  transparansinya,  bukan  pada  layer. Usahakan alat penunjuk yang runcing, misalnya pensil.
  9. Pada  saat  Anda  menampilkan  transparansi  yang  pertama,  tanyakan pada para siswa di kelas terutama pada siswa yang di belakang apakah huruf/ gambar/grafik yang Anda buat terlihat dengan jelas?
  10. Apabila telah selesai, matikan lampu OHP tetapi jangan dulu melepas kabel listrik dari terminal listrik sampai kipas pendingin berhenti. Hal yang perlu diperhatikan juga tidak disarankan untuk memindahkan OHP selama kipas pendingin masih nyala (lampu masih panas) karena hal ini dapat menyebabkan putusnya lampu OHP.
  11. Lembar transparansi yang sudah digunakan Anda simpan pada tempat khusus dengan memberi nama per materi misalnya pada map dokumen yang terbuat dari plastik.

 

 

  1. 2.             Proyektor Slide

          Adalah media film bersuara dengan menggunakan satu seri gambar diam dalam film positif   berupa slide (film bingkai) yang disajikan dengan memproyeksikannya satu demi satu secara berurutan dengan disertai pesan-pesan berupa audio melalui rekaman  pada kaset.

          Film yang diproyeksikan pada layar harus dalam ruangan gelap supaya menghasilkan gambar yang diinginkan. Lama atau sebentarnya film   yang   ditayangkan   tergantung   pada   pesan   yang   akan   kita sampaikan, satu menitpun bisa kalau pesan tersebut/ informasi telah terpenuhi. Ruangan gelap yang dimaksud tidah sepenuhnya harus seperti yang ada di bioskop- bioskop, namun ruangan kelaspun bisa digunakan dengan menutup jendela- jendela dengan gording.

          Media  ini  umumnya  digunakan  untuk  menyajikan  foto-foto obyek  untuk  bahan  ajar  terutama  yang  sulit  ditemukan  disekitar sekolah, misalnya dalam menyajikan materi keanekaragaman bentuk daun pada tumbuhan tingkat tinggi , foto jaringan mikroskopis hewan atau tumbuhan yang diambil melalui pemotretan dengan bantuan mikroskop.

 

 

 

 

Menyiapkan Slide

 

  1. Anda dapat menyiapkan sendiri foto untuk dijadikan film bingkai atau foto slide. Yaitu memotret obyek dengan menggunakan film khusus untuk slide yang disebut reversal film, contohnya adalah Kodak chrome atau ekta chrome.
  2. Film   yang   digunakan   untuk   slide   yang   umumnya   digunakan memiliki ukuran  35 mm
  3. Bingkai slide dapat terbuat  dari kertas karton tebal, plastik atau bisa dibeli dari yang sudah jadi. Sehingga ukuran film atau bingkainya memiliki ukuran yang bervariasi diantaranya adalah bingkai berukuran 5cm X 5 cm (2 inci X 2 inci) dengan ukuran gambar   24 mm X 36 mm.
  4. Bila  anda  menginginkan  film  slide  bersuara  maka  anda  tinggal memberi suara penjelasan pada tiap bingkai melalui kaset. Bila tidak bersuara,   cukup dengan menyusun film slide pada bagian tempat menyusun slide sesuai dengan pembelajaran yang sudah Anda rencanakan  sedangkan  penjelasannya  untuk  setiap  bingkai  hanya dilakukan oleh Anda sebagai guru.

 

 

gambar 12 salah satu model slide proyektor

 

 

Penggunaan proyektor slide

 

          Pembelajaran dengan menggunakan slide adalah materi-materi berupa informasi atau fakta-fakta tertentu, seperti bila kita akan membahas  tentang  keanekaragaman  daun  pada  tumbuhan  tingkat tinggi (misalnya dari macam tulang daunnya atau bentuk daunnya), tidak bisa digunakan untuk model pembelajaran yang menuntut keterampilan tertentu yang membutuhkan gerakan.

 

  1. 3.             Komputer

Penggunaan komputer dalam dunia pendidikan itu sah- sah saja. Komputer,  dengan  power  pointnya  mempermudah bagi  kita  sebagai guru untuk membuat suatu media lebih menarik lagi, selain tulisan kita juga bisa menampilkan gambar yang dibuat sendiri atau mengambil dari media lainnya seperti mendonload dari internet atau tidak hanya gambar, kita juga bisa menampilkan animasi atau film sekalipun yang di ambil dari potongan-potongan film bisa itu dari VCD atau dari media Televisi.

Power  point  pada  media  komputer  merupakan  pengembangan dari OHP dan slide proyektor, dimana pada OHP kita hanya terbatas pada  gambar   diam   saja   namun  pada  media   komputer   kita  bias menampilkan animasi. Penggunaan animasi misalnya pada materi tentang virus dan monera, proses reproduksi sel baik secara langsung maupun  tidak  langsung,  sintesis  protein  atau  pada  peristiwa penyerapan makanan dalam system pencernaan makanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Carin, Arthur A..(1997) Teaching Modern Sscience. Prentice-Hall, Inc. New

Jersey.

 

Fensam,  Peter  (1988).  Development  and  Dilemmas  in  Science  Education.

London. The Falmer Press.

 

Gil-Perez,   d.(1996).   New   Trends   in   science   education.   Int.J.Sci.Educ.Vol

18,8,889-901.

 

Johnstone, A.H. &  Al-Shuaili, A. (2001) Learning in the laboratory; some thoughts from the literature. U. Chem.Ed., 2001,5 42-51.

 

Schafersman,   Steven   D.   (1991),      An   introduction   to   critical   thinking. http://www.freeinquiry.com/critical-thinking.html.

 

Abdulhak & Sanjaya (1995), Media Pendidikan, Bandung, Pusat Pelayanan dan

Pengembangan Media Pendidikan IKIP-Bandung

Azhar Arsyad. 1997. Media Pengajaran. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Brown,  Lewis  &  Harcleroad  (1977),  AV Instructional Technology, Media, And

Methods, New York, McGraw-Hill Book Company

 

Dick Walter & Lou Carey. (1985). The Systematic Design of Instructional. London.

Scoot, Foresman and Company.

 

Green & Brown  (2002), Multimedia Projects in The Classroom, California, Corwin

Press, Inc

 

Gillespie & Spirt (1973), Creating A School Media Program, New York & London, RR Bowker Company

 

———- (1999), Education Innovations in Multimedia Systems, An Early Version of this paper won the Ben Dasher Best Paper Award at the 1999 Frontiers in Education Conference (FIE99)

 

Heinich, Robert, M. Molenda, D. Russell, (1989). Instructional Media: And The New Tecnology of Instructional, 3rd. ed., New York: Macmillan Publishing Company

 

Herawati Susilo, Kapita Selekta Pembelajaran Biologi (modul 10). Jakarta: Universitas Terbuka

 

 

Kemp (1968), Planning And Producing Audiovisual Materials, 3rd.ed, New York, Crwell Company, Inc.

Killen Roy. 1998. Effective Teaching Strategies. Australia. Social Science Press. Minor and Frye (1970), Techniques For Producing Visual Instructional Media, New

York, McGraw-Hill Book Company

 

Sadiman Arif S., R. Rahardjo, Anung Haryono, Rahardjito.1996. Media

Pendidikan. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

 

Siegel  &  Davis  (1986),  Understanding  Computer-Based  Education,  New  York, Random House

 

 

Suleiman   (1981),   Media   Audio   Visual   Untuk   Pengajaran,   Penerangan   Dan

Penyuluhan, Jakarta, Gramedia

,      Overheads,       http://plato.ess.tntech.edu/FOED3240/lectures/oh- design.htm

 

Yusuf  Pawit  M  (1989),  Komunikasi  Pendidikan  dan  Komunikasi  Instruksional, Bandung, PT Remaja Rosdakarya

 

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196305011988031-RIANDI/Bahan_Kuliah/Media_pembelajaran_biologi.pdf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s